04 Maret 2010

SENSASI BERCINTA DALAM MOBIL BERGOYANG DI HUTAN PINUS

DI kota Banjarbaru, Kalsel, penikmat cinta ala mobil goyang saat ini memburu lokasi seperti di kawasan Hutan Pinus. Selain panorama Hutan pinus yang segar di mata, kawasan ini bisa dijangkau melalui berbagai alternatif jalan.

Bisa melalui Jl A Yani Martapura melintasi tepi jalan irigasi. Atau juga melalui jalan kota Banjarbaru lewat kawasan Jl Pangeran Suriansyah Mantaos, Jl Taruna Sungai Pari, Jl Komet Raya atau jalan Pinus II Panglima Batur Barat.

Lima tahun silam, ketika pengelolaannya masih terbengkalai kawasan hutan ini sempat marak menjadi sasaran ajang mesum pasangan cinta. Selain mobil goyang, kebanyakan sejoli hanya mengendarai sepeda motor. Mereka biasanya terlihat bersantai pada siang ataupun sore hari.

Tak hanya berderet di tepi irigasi, tapi sebagian nekad memasuki ke lokasi dalam hutan pinus, mojok diantara rerimbunan semak dan batang pohon besar pinus yang menjulang.

Kalau  malam, di kawasan Hutan Pinus ini malah tak terlihat pasangan mesum. Itu karena keadaannya sangat gelap dan juga rawan kepergok para pemalak ataupun penjahat rampok yang sewaktu-waktu bisa muncul.
Anto (40) warga kawasan Hutan Pinus, malah mengaku sudah terbiasa mendapati pemandangan muda-mudi mojok pacaran di Hutan Pinus. "Biasanya bila melintas siang atau sore hari. Ada saja orang pacaran di hutan. Mereka boncengan sepeda motor atau pakai mobil,"aku Anto.

Tapi bila pakai mobil, apa yang dilakukan sepasang cinta dalam mobil tersebut sulit diketahui. Itu lantaran kaca mobil yang dipakai sengaja selalu gelap sehingga tak terlihat.

"Tapi dari kemunculan mobil di hutan, apalagi di dalamnya hanya berduaan laki wanita siapapun, sudah bisa menduga tujuan mereka. Pernah ada yang mau dipergoki, tapi begitu didekati mereka sudah keburu selesai," cerita Anto.

Pengalaman Andi (28) pegawai swasta warga Banjarmasin yang doyan main perempuan, mengaku bercinta di alam Hutan Pinus dalam mobil menjadi sensasi mengasyikkan.

"Sambil bersantai tepi Irigasi Hutan Pinus, bila suasananya  sudah sip. Kita bisa capat 'main', istilahnya short time lah. Tapi kalau ada orang mendekat. Kita bisa cepat antisipasi menjauh. Kan kaca mobilnya gelap, jadi tak terlihat orang di luar,"ucap pemuda berkulit putih ini membocorkan pengalamannya.

Fried, Ketua RT4 RW2 Pinus Lama kelurahan Mentaos Banjarbaru, mengakui Hutan Pinus acapkali menjadi ajang sasaran pasangan mesum. Termasuk penikmat cinta mobil goyang.

"Tapi itu dulu, beberapa tahun lalu. Kalau sekarang jauh pasangan mesuk sudah berkurang. Apalagi pakai mobil karena pengelolaannya sudah lumayan oleh pihak PDAM Banjar Intan. Juga kepedulian warga sudah lumayan. Jadi mereka jadi segan datang karena takut kepergok,"ucap Fried.   

Selain Hutan Pinus Banjarbaru, ada kawasan hutan lagi di kabupaten Banjar Kecamatan Karang Intan menjadi sasaran bercinta mobil goyang. Kawasan hutan Mandiangin.

Di sini malah paling seru. Tiap Sabtu dan Minggu, kawasan hutan Mandiangin di Desa Mandiangin Barat ini diburu pengunjung. Meski tak sebanyak dulu karena kondisi alamnya semakin merana tak terawat, tapi bagi pasangan muda-muda tetap menjadi pilihan menarik untuk lokasi bercinta.

Apalagi bagi peminat cinta mobil goyang. Biasanya, mereka meluncur menjanjaki kaki lereng bukit sampai puncak jalan sekitar telaga air. Sambil bersantai di warung-warung, mereka memojokkan mobilnya mencari posisi strategis. Sambil melihat panorama alam di bawah puncak, percintaan pun mengalir di dalam mobil.
Ijum (18) warga Mandiangin yang pernah membuka warung di kawasan ini mengaku, hingga sekarang kawasan Hutan Mandingin masih dikunjung para anak muda.

"Kebanyakan yang datang di Mandiangin ABG usia SMP, SMA. Biasanya laki perempuan ramai-ramai boncengan pakai motor. Kalau pasangan dewasa sering terlihat pakai mobil. Singgah di bawah, lalu naik ke bukit. Disana orang pacaran bebas sesukanya. Sore baru turun lagi keluar,"ucap Ijum .

Tak jarang ketika warga kebetulan naik ke bukit, mendapati pasangan anak muda lagi asyik bermesraan. Bila dianggap keterlaluan terkadang ditegur, tapi ada juga yang dibiarkan.

Yeyen (35) yang pernah kuliah di Banjarbaru, mahasiswa pencinta alam ketika mengikuti kegiatan lapangan di Hutan Mandiangin pada Sabtu Minggu, mengaku seringkali memergoki ulah pasangan mesum dalam mobil.
"Pokoknya bila ada mobil di atas bukit. Sudah pasti di dalamnya ada æmainÆ. Kami sering memergokinya. Tapi itukan ulah mereka, kita tak bisa juga melarangnya. Apalagi disini bebas masuk pengunjung umum,ucapnya.

Iwan (30), penikmat cinta mobil goyang, dulunya juga mahasiswa di Banjarbaru. Karena itu, ia berpengalaman mengenali medan Hutan Mandiangin. Iapun jadi berfantasi untuk mengajak pasangannya ke hutan ini.

"Paling sip datang Sabtu atau Minggu. Kalau hari lain, sepi jadi lebih rawan. Bisa-bisa kena palak. Tapi berangkatnya dengan kawan-kawan supaya tak kentara. Bila sudah di Mandiangin, acara pun masing-masing memilih lokasi,"tukasnya sambil tertawa.

Camat Karang Intan, Khairil Akhyar Ssos, mengakui kondisi kawasan Hutan Mandiangin semakin tak terurus. Selain menjadi ajang  mesum, potensinya sebagai obyek wisata terkesan mati.

"Memang Hutan Mandiangin masih saja menjadi sasaran mesum. Itu karena pengelolaan dan pengawasannya minim sekali sehingga orang bisa bebas melakukan apa saja. Ke depan kita mengharapkan sekali ada pengelolaan serius, sehingga gaung sebagai obyek wisata benar-benar terangkat. Bukan ajang mesumnya yang malah tenar,"ucapnya prihatin.
(sar)  
 

2 komentar:

Islamic Widget